SOLO – Sejumlah juru parkir di Kota Solo belum memiliki pemahaman yang seragam mengenai mekanisme penyetoran dan pembagian pendapatan dari pembayaran QRIS. Persoalan tersebut muncul pada tahap awal pelaksanaan program digitalisasi parkir di sejumlah ruas jalan kota.
Agung (55), yang bertugas di sekitar SMP Bintang Laut, mengaku belum banyak mengetahui proses pengurusan rekening, penggunaan buku rekening, serta sistem penyetoran. Ia juga belum memahami pembagian hasil dari transaksi nontunai tersebut.
Pria yang telah 17 tahun bekerja sebagai juru parkir itu sudah mengenakan rompi khusus peserta program. Namun, ia menyatakan masih menunggu kelengkapan rekening sebelum menerima pembayaran QRIS.
“Mungkin kita nunggu buku rekening kalau sudah ada buku rekening kita pakai QRIS,” kata Agung kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Menurut Agung, pendapatan parkir yang ia kumpulkan selama ini tetap harus disetorkan kepada pihak pengelola atau pemborong yang menaunginya. Keterangan itu menjadi bagian dari persoalan yang dihadapinya dalam memahami sistem pembayaran baru.
Program parkir QRIS diluncurkan Wali Kota Solo Respati Ardi melalui Dinas Perhubungan pada Jumat (18/9/2026). Pengendara dapat membayar secara nontunai dengan memindai kode yang disediakan petugas, terutama di ruas jalan protokol.
Keterangan berbeda mengenai pengelolaan dana disampaikan Wahyudi (57), juru parkir di depan toko roti Harvest, Jalan Slamet Riyadi Nomor 330. Ia mengaku diminta menyediakan Rp50.000 untuk pembukaan rekening dan menyebut adanya penarikan uang melalui ATM sebelum penyetoran kepada Dishub.
Sementara itu, Sugiyar, yang bertugas di depan Toko Roti Miss, mengatakan dana pembayaran QRIS masuk langsung ke rekening pribadinya di Bank Jateng. Menurutnya, dana tersebut dikenai pemotongan yang ia sebut sebagai pajak sebesar 10 persen.
Selain mekanisme keuangan, penggunaan QRIS oleh pengendara juga masih terbatas. Wahyudi mengaku baru menerima satu hingga dua pembayaran nontunai selama sekitar sepekan. Ia menyebut sosialisasi kepada masyarakat belum merata.
Sugiyar mengatakan transaksi QRIS lebih banyak dilakukan pengendara muda yang terbiasa menggunakan pembayaran digital. Ketiga petugas tersebut menilai dampak program belum signifikan pada awal pelaksanaannya.
Dalam percobaan yang dilaporkan Kompas.com, pembayaran terkonfirmasi dalam hitungan detik setelah kode dipindai. Tarif sepeda motor di lokasi yang dicoba tetap Rp2.000, sama dengan pembayaran tunai.
Program tersebut sekaligus ditujukan untuk menekan juru parkir liar dan penarikan tarif di atas ketentuan. Meski pilihan QRIS mulai tersedia, pembayaran tunai masih berlangsung bersamaan dengan transaksi nontunai.
