KOTA BEKASI – Barongsai selama ini lekat dengan suasana perayaan dan pertunjukan budaya. Namun di balik gerakannya yang atraktif, barongsai telah berkembang menjadi olahraga prestasi yang menuntut kekuatan fisik, teknik, serta koordinasi tinggi.
Di Indonesia, pembinaan olahraga barongsai berada di bawah Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). Organisasi tersebut berdiri pada 2012 dan diterima menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 2013.
Perkembangan tersebut membuat barongsai semakin masuk dalam sistem pembinaan dan kompetisi olahraga. Atlet tidak hanya dituntut mampu menampilkan gerakan yang menarik, tetapi juga harus memiliki kekuatan, keseimbangan, kelenturan, dan konsentrasi.
Dalam satu kostum barongsai, dua atlet harus bekerja sama secara rapat. Gerakan kepala, badan, langkah, hingga lompatan harus dilakukan secara sinkron agar keseluruhan penampilan terlihat hidup dan harmonis.
Tantangan yang lebih tinggi terlihat pada nomor tonggak. Atlet harus berpindah dari satu pijakan ke pijakan lainnya dengan presisi tinggi. Keseimbangan, kekuatan kaki, serta ketepatan pendaratan menjadi bagian penting dalam pertandingan.
Barongsai juga memiliki sejumlah nomor kompetisi. Selain taolu bebas dan tradisional, terdapat nomor kecepatan, halang rintang, serta ketangkasan. Cabang ini juga menaungi nomor naga atau liong serta pekingsai.
Pada Porprov XV Jawa Barat 2026, barongsai menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Kota Bekasi. Sebanyak 10 nomor pertandingan disiapkan.
Kehadiran barongsai dalam Porprov memperlihatkan bagaimana tradisi dapat tumbuh menjadi olahraga modern tanpa kehilangan akar budayanya. Unsur seni tetap hadir, tetapi kini berpadu dengan disiplin latihan dan tuntutan prestasi.
