MANTRIJERON – Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY untuk menyukseskan rangkaian HUT Ke-270 Kota Yogyakarta. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kunjungan sekaligus memperpanjang masa tinggal wisatawan selama Oktober 2026.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak pengelola hotel dan restoran memberikan harga khusus atau diskon untuk menyemarakkan peringatan hari jadi kota. Insentif tersebut diharapkan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk menikmati lebih banyak agenda di Yogyakarta.
Ajakan itu disampaikan Hasto dalam pertemuan bersama PHRI DIY di Hotel Alana Malioboro, Rabu (5/8/2026). Menurutnya, Pemkot Yogyakarta sedang merancang kalender kegiatan yang berlangsung sejak awal hingga akhir Oktober.
“Kami berusaha agar length of stay di Yogya menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, acara-acara di bulan Oktober kami coba penuh agar ada multiplier effect dari ulang tahun Kota Yogyakarta,” kata Hasto.
Selain sektor hotel dan restoran, program potongan harga diharapkan menyentuh pasar tradisional. Pemkot antara lain menggagas penyediaan 270 voucer belanja dengan diskon Rp10.000.
Rangkaian perayaan diawali peluncuran logo HUT Ke-270 pada 7 Agustus 2026 di 270 titik. Kegiatan utama dipusatkan di depan Pasar Beringharjo dan dilaksanakan bersamaan dengan gotong royong aparatur Pemkot Yogyakarta di sekitar 150 lokasi.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori mengatakan, pemerintah dan industri pariwisata memiliki peran yang saling melengkapi. Hotel dan restoran bertugas meningkatkan kualitas pelayanan, sedangkan pemerintah menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan ruang kota.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ajakan pemberian harga khusus akan diteruskan kepada anggota PHRI di Kota Yogyakarta, sementara besarannya diserahkan kepada masing-masing pengelola.
Deddy menyebut okupansi hotel di DIY pada Juli berkisar 60–70 persen. Khusus Kota Yogyakarta, tingkat keterisian kamar mencapai sekitar 85 persen, meski pendapatan kotor hotel dinilai masih stagnan akibat meningkatnya biaya operasional.
