YOGYAKARTA – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa penguatan sektor ekonomi kreatif menjadi strategi utama Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah keterbatasan sumber daya alam. Komitmen tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan IDE.IND 2026 yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif di Plaza Malioboro, Sabtu (13/6).
Dalam sambutannya, Hasto mengatakan Kota Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda dibanding banyak daerah lain di Indonesia. Luas wilayah yang terbatas, kepadatan penduduk yang tinggi, serta masyarakat yang heterogen membuat pembangunan harus bertumpu pada kualitas sumber daya manusia dan kreativitas.
“Kota Yogyakarta tidak punya sumber daya alam, tetapi mempunyai sumber daya manusia. Sehingga kami harus mengandalkan ekonomi kreatif untuk bisa meningkatkan pendapatan di Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut Hasto, tantangan demografi juga menjadi perhatian serius. Saat ini Kota Yogyakarta telah memasuki fase aging population dengan jumlah penduduk lanjut usia mencapai 17,8 persen, tertinggi secara nasional. Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan ruang produktif melalui pengembangan ekonomi kreatif yang mampu memberdayakan perempuan maupun lansia.
Ia menilai Yogyakarta memiliki modal besar untuk mengembangkan industri kreatif. Kehadiran Institut Seni Indonesia (ISI), para seniman, budayawan, hingga berbagai agenda berskala nasional seperti ArtJog dan Customfest menjadi kekuatan yang dapat terus dikembangkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
Pemerintah Kota Yogyakarta juga terus memperbanyak penyelenggaraan event yang mampu menarik wisatawan, salah satunya Jogja Wayang Night Carnival yang akan kembali digelar pada Oktober mendatang. Berbagai kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya kota, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Selain sektor seni dan budaya, inovasi ekonomi kreatif juga diterapkan dalam penyelesaian berbagai persoalan perkotaan. Pemkot Yogyakarta mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui pembangunan biopori, fasilitas pengomposan, serta waste station yang memberikan insentif digital kepada masyarakat.
Tak berhenti di situ, hasil pengolahan sampah bahkan mulai dimanfaatkan sebagai material bangunan untuk rumah layak huni. Pemerintah juga mengembangkan wisata berbasis sungai di kawasan Code, Winongo, dan Gajah Wong sebagai alternatif destinasi baru yang bernilai ekonomi.
“Banyak kreativitas baru yang bisa dibangun sambil menyelesaikan persoalan kota. Jadi tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Hasto.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya mengapresiasi perkembangan ekonomi kreatif di Yogyakarta yang dinilainya menjadi contoh bagi daerah lain. Menurutnya, perpaduan budaya yang kuat dengan inovasi dan teknologi menjadi fondasi penting dalam membangun industri kreatif yang berdaya saing.
Ia juga menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta telah ditetapkan sebagai salah satu dari 15 provinsi prioritas pengembangan ekonomi kreatif dalam lima tahun ke depan. Melalui IDE.IND 2026 yang menghadirkan talkshow, pameran, kelas peningkatan kapasitas, hingga kurasi pelaku usaha dari 17 subsektor, pemerintah berharap semakin banyak jenama lokal Yogyakarta mampu berkembang dan menembus pasar nasional maupun global.
