YOGYAKARTA – Sebanyak 14 kampung dari seluruh kemantren di Kota Yogyakarta akan mengikuti Lomba Kampung Tangguh Pangan Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta ini menjadi salah satu langkah memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pemanfaatan lahan terbatas di kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menjelaskan lomba tersebut merupakan bagian dari strategi membangun budaya ketahanan pangan yang berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat memiliki peluang besar menghasilkan pangan secara mandiri melalui pemanfaatan pekarangan rumah, lahan kosong, maupun ruang produktif lainnya.
Konsep yang diusung dalam lomba ini adalah integrated farming, yakni sistem yang mengintegrasikan budidaya tanaman, peternakan skala kecil, dan perikanan sehingga saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat melalui berbagai inovasi di lingkungan masing-masing,” ujar Sukidi.
Selain meningkatkan ketersediaan pangan, penerapan pertanian terpadu juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, serta memperkuat budaya gotong royong di tingkat kampung.
Proses penilaian akan berlangsung pada 5, 6, 11, 12, dan 13 Agustus 2026. Setiap kemantren mengirimkan satu kampung sebagai peserta dan dapat mengusulkan satu hingga tiga lokasi untuk dinilai oleh tim juri.
Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga melihat keberlanjutan program, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, pengelolaan limbah, pemanfaatan hasil produksi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak. Inovasi seperti hidroponik, smart farming, dan sistem irigasi sederhana turut menjadi nilai tambah dalam kompetisi tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan trofi, piagam, dan uang pembinaan. Juara I akan memperoleh Rp5 juta, Juara II Rp4,5 juta, Juara III Rp4 juta, Juara Harapan I Rp3,5 juta, dan Juara Harapan II Rp3 juta.
Melalui lomba ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap semakin banyak kampung yang mampu menjadi percontohan dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat. Semangat memanfaatkan pekarangan dan mengembangkan pertanian terpadu diharapkan terus berlanjut, sehingga memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan dan kualitas lingkungan di Kota Yogyakarta.
