UMBULHARJO – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan kembali menyelenggarakan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) pada 23–30 Agustus 2026. Berlokasi di Taman Budaya Embung Giwangan, festival ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya.
FSY telah rutin diselenggarakan sejak 2021. Pada pelaksanaan tahun ini, tema “Laku” dipilih untuk menegaskan pentingnya menjalankan dan menghidupkan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan sastra tidak hanya hidup di dalam buku. Sastra juga tumbuh melalui kegiatan membaca, menulis, berdialog, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi selanjutnya.
Melalui FSY, berbagai ruang dibuka untuk mempertemukan penulis dengan pembaca, penerbit dengan penulis, komunitas dengan masyarakat, serta tradisi dengan berbagai gagasan baru.
Festival tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dengan IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, sejumlah program studi UGM, Dinas Koperasi dan UMKM DIY, komunitas aksara Jawa, serta para sastrawan, budayawan, akademisi, dan penerbit.
Salah satu agenda yang mendapatkan sambutan besar adalah Sayembara Puisi Nasional. Pada tahun ini, sebanyak 1.687 peserta dari berbagai wilayah Indonesia mengirimkan 4.136 puisi.
“Angka itu bukan sekadar statistik. Ketika ribuan orang memilih mengirimkan puisinya, kata-kata masih dipercaya untuk menyampaikan perasaan, pikiran, kegelisahan, dan harapan manusia,” ujar Yetti, Minggu (23/8/2026).
Selama delapan hari, FSY menghadirkan sekitar 100 pembicara dan pengisi acara, 36 sesi kegiatan, serta partisipasi 12 komunitas. Program yang disajikan antara lain Pasar Buku Sastra, diskusi, pameran, lokakarya, seminar, orasi budaya, poetry jam, dan pertunjukan.
Yetti berharap FSY melahirkan pembaca baru, mendorong kreativitas penulis, dan membuka semakin banyak ruang bagi komunitas. Keberhasilan festival, menurutnya, terlihat dari hal-hal yang terus tumbuh setelah seluruh kegiatan selesai.
