{"id":1143,"date":"2026-06-01T06:16:51","date_gmt":"2026-06-01T06:16:51","guid":{"rendered":"https:\/\/sedulurjogja.com\/?p=1143"},"modified":"2026-06-01T06:16:51","modified_gmt":"2026-06-01T06:16:51","slug":"kota-yang-berdamai-dengan-sungai-konsep-3m-dari-jogja-untuk-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/2026\/06\/01\/kota-yang-berdamai-dengan-sungai-konsep-3m-dari-jogja-untuk-indonesia\/","title":{"rendered":"Kota yang Berdamai dengan Sungai, Konsep 3M Dari Jogja untuk Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>SEDULURJOGJA- Kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah ke kawasan bantaran Kali Code dan Giwangan, Yogyakarta, akhir Mei 2026, melahirkan sebuah gagasan menarik. Fahri mengusulkan agar konsep penataan permukiman &#8220;3M&#8221; atau <em>mundur, munggah, madhep kali<\/em> yang selama ini diterapkan Pemerintah Kota Yogyakarta dijadikan sebagai model nasional bagi penataan kawasan bantaran sungai.<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Fahri, konsep tersebut layak menjadi identitas khas Yogyakarta sekaligus referensi bagi kota-kota lain yang menghadapi persoalan serupa, yakni kepadatan permukiman di tepi sungai. Dalam pandangannya, penataan kawasan sungai tidak cukup hanya memperbaiki rumah warga, tetapi juga harus menghadirkan ruang publik dan akses jalan yang membuat sungai menjadi bagian dari kehidupan kota.<\/p>\n<p>Secara teknis, 3M memiliki makna yang sederhana. <em>Mundur<\/em> berarti bangunan tidak berdiri terlalu dekat dengan bibir sungai sehingga tersedia ruang sempadan yang memadai. <em>Munggah<\/em> berarti memanfaatkan ruang secara vertikal ketika lahan perkotaan semakin terbatas. Sementara <em>madhep kali<\/em> berarti mengorientasikan rumah dan lingkungan menghadap sungai.<\/p>\n<p>Namun di balik kesederhanaannya, konsep tersebut menyimpan filosofi yang cukup dalam tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya.<\/p>\n<p>Prinsip <em>mundur<\/em> mengajarkan kesadaran akan batas. Selama ini pembangunan perkotaan sering bergerak dengan logika ekspansi tanpa henti hingga sungai kehilangan ruang alaminya. Dalam konteks ini, mundur bukan berarti kalah, melainkan bentuk penghormatan terhadap ruang yang memang harus tetap dimiliki alam.<\/p>\n<p>Prinsip <em>munggah<\/em> mencerminkan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan. Ketika lahan semakin sempit, solusi tidak selalu harus memperluas wilayah permukiman. Sebaliknya, ruang yang ada dimanfaatkan secara lebih efisien. Filosofi ini menunjukkan cara berpikir yang lebih berkelanjutan di tengah pertumbuhan kota yang terus berlangsung.<\/p>\n<p>Sementara itu, <em>madhep kali<\/em> mengandung pesan yang paling menarik. Banyak permukiman di Indonesia membelakangi sungai sehingga sungai sering diperlakukan sebagai halaman belakang tempat sampah dan limbah. Ketika rumah-rumah menghadap sungai, hubungan psikologis masyarakat terhadap sungai ikut berubah. Sungai menjadi bagian depan lingkungan yang terlihat setiap hari dan karena itu lebih mungkin dirawat.<\/p>\n<p>Dalam konteks pembangunan perkotaan saat ini, 3M dapat dipahami bukan sekadar formula penataan kawasan bantaran sungai. Ia menawarkan cara pandang baru bahwa kota yang sehat tidak dibangun dengan menaklukkan alam, melainkan dengan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Mungkin itulah alasan mengapa konsep yang lahir di Yogyakarta ini dinilai layak menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SEDULURJOGJA- Kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah ke kawasan bantaran Kali Code dan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1144,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,2,35,83],"tags":[],"post_badge":[],"class_list":["post-1143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","category-hunian-nyaman","category-kebudayaan","category-pembangunan"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834.jpg",1672,941,false],"thumbnail":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-300x169.jpg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-768x432.jpg",640,360,true],"large":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-1024x576.jpg",640,360,true],"1536x1536":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-1536x864.jpg",1536,864,true],"2048x2048":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834.jpg",1672,941,false],"reviewnews-featured":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-1024x576.jpg",1024,576,true],"reviewnews-large":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-825x575.jpg",825,575,true],"reviewnews-medium":["https:\/\/sedulurjogja.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/c2f19f7b-d50d-4d77-a3d0-944f9cccd834-590x410.jpg",590,410,true]},"author_info":{"info":["Wartawan"]},"category_info":"<a href=\"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/category\/gaya-hidup\/\" rel=\"category tag\">Gaya Hidup<\/a> <a href=\"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/category\/hunian-nyaman\/\" rel=\"category tag\">Hunian Nyaman<\/a> <a href=\"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/category\/kebudayaan\/\" rel=\"category tag\">Kebudayaan<\/a> <a href=\"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/category\/pembangunan\/\" rel=\"category tag\">Pembangunan<\/a>","tag_info":"Pembangunan","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1143"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1145,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1143\/revisions\/1145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1144"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1143"},{"taxonomy":"post_badge","embeddable":true,"href":"https:\/\/sedulurjogja.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/post_badge?post=1143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}