Istimewa
Dalam perjalanan spiritual, terkadang ada pribadi yang ingin menemukan jalan menuju Tuhan tanpa harus terikat pada syariat. Mereka merasa bahwa syariat hanyalah ritual lahiriah yang tidak selalu diperlukan oleh setiap orang.
Ada pandangan bahwa jalan manusia menuju Tuhan bisa berbeda-beda, meskipun muaranya sama: mencari kebenaran, ketenangan batin, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Pandangan seperti ini tentu perlu dihormati sebagai bagian dari perjalanan batin setiap manusia. Namun, kita juga dapat mendekatinya dengan cara berpikir yang lebih logis dan sederhana: menghitung peluang.
Misalnya kita membuat dua asumsi:
H0: Dengan bersyariat, manusia akan selamat ketika menuju Tuhan.
H1: Manusia tidak harus bersyariat untuk mendapatkan keselamatan menuju Tuhan.
Jika keduanya kita anggap memiliki peluang yang sama untuk benar, maka pilihan bersyariat menjadi pilihan yang paling aman.
Mengapa?
Jika kita memilih bersyariat, lalu ternyata H0 benar, maka kita berada di jalan yang sesuai. Jika ternyata H1 benar, orang yang bersyariat tetap tidak rugi.
Karena syariat tetap mengajarkan disiplin, akhlak, kesabaran, pengendalian diri, kebersihan hati, dan kebaikan sosial.
Tetapi jika kita memilih tidak bersyariat, maka kita kehilangan peluang jika H0 ternyata benar. Dan bila H0 benar, kerugiannya bukan sekadar kerugian dunia, tetapi menyangkut keselamatan akhirat.
Maka dalam logika kehati-hatian, bersyariat bukan hanya soal ritual, tetapi juga pilihan rasional. Ia menjadi ikhtiar paling aman bagi manusia yang sadar bahwa pengetahuan dirinya terbatas, sementara perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan yang sangat besar.
Bersyariat bukan berarti merasa paling benar. Bersyariat adalah cara merendahkan diri dengan mengikuti tuntunan hidup yang diyakini membawa manusia menuju kebaikan. Karena ketika manusia belum mampu memastikan seluruh kebenaran dengan akalnya, maka memilih jalan yang paling aman adalah bagian dari kebijaksanaan.
“Yen durung weruh pungkasaning dalan, luwih becik mlaku nganggo tuntunan.”
(Jika belum mengetahui akhir dari perjalanan, lebih baik berjalan dengan tuntunan.)
Paras Sujiwo
Entrepreneur | Data Scientist | Tekhnokrat Budaya
